Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PAKUAN DAN PAKUNGWATI DALAM HISTORIOGRAFI SUNDA, CIREBON DAN BANTEN ( Bagian-2)

Jejak Dalem Pakungwati Cirebon (Dok: R Hafid Permadi)


    Pakuwan atau Pakuan  selain terinskrisi pada prasasti Batu Tulis, Prasasti Kabantenan (Bekasi) dan Prasasti Hulu Dayeuh (Cirebon) tercatat pula pada naskah Carita Parahiyangan, Carita Waruga Guru dan Naskah Lontar  MSA yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy oleh peneliti Belanda Brandes. Prasasti Batu Tulis menyebutkan;  ".....Sri Sang Ratu Dewata pun ya nyusuk na Pakuwan diya anak Ra Hyang Dewa Niskala.....". Prasasti Kabantenen I dan II menuliskan, "Pun ini piteket Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Sri Sang Ratu Dewata".   Sedangkan Prasasti Hulu Dayeuh Cirebon mengungkapkan "...Sri Mahharaja Ratu Haji Di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata Pun..."

Dengan demikian apakah  sumber sejarah yang menjadi acuan historiografi Sunda tersebut memaknai Pakuwan sebagai nama kerajaan atau sebutan umum untuk kota praja? 

    Pembahasan terhadap prasa Pakuwan berawal dari upaya sejumlah peneliti mengungkap arti dari kalimat-kalimat yang tertera pada prasasti Batu Tulis Bogor. Prasasti ditemukan dan dilaporkan oleh  Abraham Van Reebek  seorang pejabat VOC tahun 1703 saat ekspedisi lanjutan setelah sebelumnya  Scipio tahun 1687 dan Adollf Winker tahun 1690. Pada ekspedisi Scipio dan Winkler  keduanya hanya mendapatkan informasi seputar reruntuhan yang diduga bekas benteng kerajaan. Van Reebek sempat tiga kali melakukan kunjungan ke kawasan tersebut.


Menelaah dan Mengeja Ulang Pendapat Ahli 

    Menurut para peneliti untuk bisa memahami isi prasasti  Batu Tulis maka terlebih dahulu harus mengungkap  makna sesungguhnya dari Pakuwan.  Dalam hal ini setidaknya terdapat dua kelompok pendapat terhadap beberapa baris kalimat yang terinskripsi pada prasaasti tersebut. Pertama memandang Pakuan sebagai nama (kerajaan). Kelompok lainnya berpendapat bahwa Pakuwan hanyalah sebutan untuk kota praja. 

    Sejarawan Belanda KF Holle dalam karyanya De Batoe Toelis te Buitenzorg berasumsi bahwa pakuwan berasal dari nama tumbuhan  paku haji yang banyak tumbuh di dekat kawasan dimana ditemukan prasasti. Asumsi ini kemungkinan bersal dari lakon pantun pada naskah Carita Waruga Guru (1750) yang menceritakan pelarian Pakuwan membangun kampung Citorek -Bayah kabupaten Lebak. Konon Leluhur Citorek sengaja meninggalkan jejak untuk jalan pulang berupa tanaman Paku Haji atau Pahare di sepanjang rute Bogor-Gunung Batu-Citorek. Holle menguatkan argumennya dengan menunjuk Sungai Cipaku yang mengalir dan melintasi daerah Batu Tulis. Artinya karena dilintasi sungai Cipaku inilah kawasan tersebut dinamai Pakuwan. Penulis  Belanda ini cenderung memaknai Pakuan sebagai nama Kerajaan dengan ibukota dimana ditemukan Prasasti Batu Tulis (Saleh Danasasmita, Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi, Kiblat, Bandung 2015)

    Pendapat Holle tergolong asumsi yang lemah terutama jika dikaitkan banyaknya nama Cipaku di Jawa Barat dan Banten tetapi tidak memiliki keterkaitan dengan sebutan Pakuan. Kata Paku pada Cipaku dan Pakuan merupakan sejenis homonim dimana satu kata memiliki beberapa arti berbeda. Paku pada Cipaku memang menunjukkan di daerah tersebut (pernah) banyak tumbuh pohon paku. Tetapi  Pakuan pada prasasti tersebut tidak sedang menjelasakan tanaman paku ataupun sungai Cipaku. Sebaliknya prasasti Kabantenen dimana banyak disebut Pakuan yang ditemukan di Bekasi justru tidak menunjukkan  keterkaitan dengan kawasan dimana banyak tumbuh tanaman Paku. Begitu juga halnya dengan Prasasti Hulu Dayeuh Cikalahang Cirebon.

    Berbeda dari Holle, CF Rouffaer dalam Encyclopaedie Van Nederlansch Indie menganggap Pakuan merupakan simbolisasi dari kota pengokoh kehidupan dunia. Di masa lalu raja kerap dipandang sebagai pusat alam. Jadi ibarat pakunya alam Pakuan pun bisa berarti kota paku alias kota pusat atau ibu kota. Demikian juga H Ten Dam seorang insinyur pertanian Belanda yang melakukan penelitian kehidupan sosial ekonomi petani Jawa Barat tahun 1957dalam Verkenningen Rondom Padjadjaran menyatakan bahwa Pakuan adalah pengertian untuk kata benda umum yang berarti ibukota dan harus dibedakan dari keraton. 

    Pendapat Ten Dam dan Rouffaer diperkuat ahli bahasa Jawi Kuno R Ng Poerbatjaraka yang menganggap pakuwan berasal dari kata Kuwu yang artinya kemah atau pesangggrahan, identik dengan keraton. Meskipun tidak tepat karena mempersepsi Kuwu sebagai tempat tinggal, namun asumsi Purbatjaraka memperkuat pandangan Pakuwan atau Pakuan sebagai sebutan untuk ibukota kerajaan.

    Hal senada diungkapkan sejarawan sunda Ayatrohaedi sebagaimana dituangkan dalam kumpulan esai tentang kebudayaan Sunda Politik Agraria dan Pakuan Pajajaran (Seri Sundalana, Pusat Studi Sunda, Bandung 2015). Menurut Ayat silang pendapat pemerhati sejarah sesungguhnya mengarah pada kesimpulan bahwa Pakuan identik sebagai kota pusat kerajaan dan bukan nama kerajaan. Lebih jauh Ayatroehaedi menegaskan, memaknai Pakuan dan bahkan Pajajaran sebagai nama kerajaan sesungguhnya lebih semacam asumsi yang bersumber dari naskah-naskah bernilai sastra ketimbang sejarah, termasuk carita pantun tinggalan sastra lisan.

    Sesungguhnya ada semacam variasi penggunaan frasa Pakuan dan Pajajaran pada prasasti Batu Tulis dan Pasasti Kabantenan I-IV. Pakuan Pajajaran (lengkap) dan Pakuan  saja (tanpa Pajajaran) terdapat pada Prasasti Batu Tulis (Bogor), sedangkan Pajajaran tanpa Pakuan dijumpai pada Prasasti Kabantenan (Bekasi). Pendapat Ayatroehaedi bahwa Pajajaran pun harus diartikan sebagai sebutan untuk Ibukota dan bukan nama kerajaan seakan membantah pernyataan Saleh Danasasmita cendekiawan yang banyak membahas soal Sunda, Pakuan dan Pajajaran. Saleh saat mengakhiri Bab I Mencari Gerbang Pakuan menyatakan bahwa Istilah Pakuan untuk nama (ibu) kota dan istilah Pajajaran untuk nama negara mengikuti kebiasaan masyarakat Jawa Barat sekarang ini.

    Selain bersandar pada naskah bercorak sastra menurut Sejarawan Unpad Partini Sarjono, keterangan mengenai Pajajaran lebih banyak bergantung pada ceritera rakyat atau babad dari Sumedang yang dibuat Pangeran Kornel tahun 1816. Naskah yang disalin ulang tahun 1862 ini  meskipun banyak memasukkan kosakata Sunda dan bahasa Cirebon tetapi menggunakan narasi berbahasa Jawa Baru yang banyak digunakan oleh pujangga di Jawa Tengah. Menurut Partini naskah babad dan cerita rakyat meskipun memakai judul Pakuan ataupun Pajajaran namun umumnya materi (isi) yang disajikan tidak relevan dengan judul. Carita Nagara Pajajaran misalnya menyebut Pajajaran hanya di awal cerita selanjutnya tidak lagi dijelaskan.

    Jika Pakuan dan Pajajaran bukanlah nama kerajaan tetapi sebutan umum ibukota, maka terbuka pertanyaan; Apakah  Pakuan yang tertulis pada Prasasti Hulu Dayeuh sama dengan Pakuan yang dimaksudkan oleh Prasasti Batu Tulis dan Prasasti Kabantenan? Dari sisi geografi  Prasasti Huludayeuh Dukupuntang Cirebon berada di kawasan yang dahulu  termasuk Galuh bahkan berbatasan dengan daerah yang dikenal sebagai area Raja Galuh. Sedangkan Batu Tulis Bogor berada di kawasan yang  oleh Prasasati Jaya Bupati  abad 11 M disebut Prahajian Sunda. Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa yang dimaksud Pajajaran pada Prasasti Batu Tulis pun merupakan sebutan yang merujuk pada dua Pakuwan yang berdiri pajajar yakni  Pakuan Sunda dan Pakuan Galuh. Di kecamatan Raja Galuh Majalengka juga terdapat Situs Pajajar(an) tinggalan Raja Galuh. Bukan suatu kebetulan jika masyarakat Sunda menyebut daerah dimana terdapat Pakuan sebagai Dayeuh atau Dayo seperti tercatat dalam Summa Oriental nya Tome Pires. Kawasan dimana ditemukan Prasasti Dukupuntang pun dinamai Hulu Dayeuh.

    Di era kemudian Kerajaan Galuh menjelma menjadi Pakungwati-Cirebon sedangkan Kerajaan Sunda berujung menjadi Kerajaan Sunda Banten (Wallahu A'lam)



 



Posting Komentar untuk "PAKUAN DAN PAKUNGWATI DALAM HISTORIOGRAFI SUNDA, CIREBON DAN BANTEN ( Bagian-2)"