Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MAKNA ALTERNATIF "..YA NU NYUSUK NA PAKUAN.." PADA PRASASTI BATU TULIS BOGOR

Reruntuhan Bekas Tembok dan Parit di Keraton Pakungwati Cirebon (foto; Dok. R Hafid Permadi)

Prolog
    Selain berkaitan dengan candrasangkala, "..Nu Nyusuk Na Pakwan.." merupakan penggalan kalimat Prasasti Batu Tulis Bogor yang menyita diskusi sejarawan. Sejak pertama berhasil ditranskripsi oleh Friederich tahun 1853 diterjemahkan oleh FK Holle (1869), kemudian Hoesein Djadjadiningrat (1916), CF Rouffaer (1919), Poerbatjaraka (1921) dan H Ten Dam ataupun Noorduyn tahun 1957 hingga sekarang pengertian kalimat tersebut masih layak ditelaah. Terlebih karena perbedaan dalam penetapan sasakala dan arti kalimat berpengaruh pula pada penjelasan mengenai konteks yang dimaksud dalam isi prasasti. Jadi meskipun pendek dan singkat kalimat  " Ya Nu Nyusuk Na Pakwan" itulah yang menjadi salah satu muara silang pemahaman dalam menjelaskan sejarah Sunda. 
    Sejauh ini ada empat versi bacaan terhadap candrasangkala prasasti; 
(1) KF Holle menterjemahkan "..panca pandawa m(ban) bumi.." ( Baris 8-9 ) sebagai tahun 1055           Saka/1133 M.
(2) CM Pleyte menghitungnya tahun1455 Saka /1533 M. 
(3) Poerbatjaraka menetapkan tahun 1255 Saka /1333 M. Hasil bacaan Poerbatjaraka kemudian       banyak dipakai untuk pelajaran di sekolah.
(4) Hoesein Djajadiningrat pada tahun 1916 atau seratus tahun lalu dalam disertasinya menetapkan            1355 Saka / 1433 M untuk candrasangkala prasasti. Hoesein menganggap prasasti dibuat oleh figur yang disebut Sri Baduga Maharaja.

Dua Rentang Periode Pemaknaan
    FK Holle sebagaimana disebutkan dalam De Batoe Toelis te Buitenzorg mengartikan "Ya Nu Nyusuk na Pakwan" sebagai "Dia yang mendirikan Pakwan". Pendapat ini bersandar pada keterangan Penghulu Garut Muhammad Musa yang mengartikan Nyusuk sebagai bahasa Sunda untuk makna 'mendirikan' dan  'membangun' kota atau desa. Muhammad Musa, selain sahabat Holle dan  penghulu Limbangan (1855) dia juga sastrawan yang melahirkan sejumlah karya seperti Wawacan Panji Wulung, Wawacan Purnama Alam, dan Wawacan Rengganis yang banyak diminati masyarakat priangan.
    Teori  Holle meskipun banyak menjadi rujukan penelitian menyangkut Prasasti Batutulis Bogor, namun pada ghalibnya tidak lepas dari sanggahan dan kritik. Sejarawan Sunda Saleh Danasasmita misalnya, membantah Holle karena sesungguhnya Nyusuk tidak pernah digunakan dalam arti Membangun dan Mendirikan (Melacak Sejarah Pakuan, Pajajaran dan Prabu Siliwangi, Kiblat, Bandung, 2015). Menurutnya bacaan Holle yang dipakai selama satu abad itu sudah usang dan perlu direvisi. Kamus Bahasa  Sunda karya Satja Dibrata (1954 ) mengartikan Nyusuk  'membuat saluran atau parit, bukan membangun ataupun mendirikan. Nyusuk yang diterjemahkan ngadegkeun, ngababadag atau membangun yang tercatat dalam Kamus Bahasa Sunda karya Coolsma (1919) pun sesungguhnya berasal dari pendapat  CM Pleyte yang mengutip Holle. Sedangkan Holle mendasarkan keterangannya pada pendapat Penghulu Garut  Muhammad Musa yang dianggap tidak sesuai dengan kaidah dan kelaziman penggunaan  nyusuk sebagai kosakata Sunda. Karenanya  masih terbuka peluang telaah dengan pendekatan alternatif untuk penafsiran "..Nu Nyusuk Na Pakwan..". Kalimat Nyusuk na Pakuwan atau yang seakar kata Nyusuk terdapat juga pada Naskah Ciburuy Kropak 362 koleksi Brandes yang menuliskan.." Awigna mastu nihan tembey sasakala rahyang banga masa siya nyusuk na pakuan"
    Sebagai koreksi terhadap versi bacaan KF Holle sejumlah sejarawan Sunda kemudian mengajukan tafsir baru yang mendudukkan pengertian "Nyusuk Na Pakuwan"  sebagai 'Membuat  Parit' atau 'Memariti Pakuwan" yang selanjutnya dikonotasikan  'Membangun Benteng Pertahanan' atau 'Membentengi Pakuwan". Tafsir ini menjadi pijakan baru dalam bahasan sejarah Sunda berikutnya terutama oleh penulis seperti Atja, Ayatrohedi, Edi S Ekajati, Saleh Danasasmita, Yosef Iskandar dan Hasan Jakfar. Dengan demikian pengertian 'Membangun Pakuwan' yang diteorikan oleh Holle sejak 1857, lebih satu abad kemudian  di tahun 1980an dikoreksi menjadi 'Memariti Pakuwan' atau 'Membuat Benteng Pertahanan Pakuwan'.
    Berikut  kalimat lengkap Prasasti Batu Tulis menurut bacaan Saleh Danasasmita seperti dicatat Yoseph Iskandar dalam Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa) 
        wang na pun ini sakakala ,prebu ratu purane pun diwastu
        dia wingaran prebu guru dewataprana diwasti diya dingaran sri
        baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu de
        wata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa nis
        kala sa(ng) sidamoka di gunatiga, i(n)cu rahyang siskala wastu
        kancana sang sidamokta ka nusa larang,ya siya nu nyiyan sakaka
        la gugunungan ngabalay nyiyan samida,nyiyan sanghyang talaga
        rena mahawijaya, ya siya pun i saka, panca pandawa (m)ban bumi

Artinya:
        Semoga Selamat. Inilah tanda peringatan 
        untuk Prabu ratu Almarhum, dinobatkan dia 
        dengan nama prabu guru dewataprana, dinobatkan
        lagi dia dengan nama sri Baduga Maharaja
        ratu penguasa di pakuan pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
        dialah yang membuat parit pertahanan di pakuan. 
        Dia anak  Rahyang Dewa Nis
        kala yang mendiang di gunatiga, cucu rahyang 
        Niskala wastu kancana yang mendiang ke nusa
        larang. dialah yang membuat tanda peringatan  
        berupa gunung-gunungan, mengeraskan (jalan)
        dengan batu

    Meskipun merupakan koreksi atas pemaknaan lama yang menterjemahkan "Ya Nu Nyusuk Na Pakuwan", sebagai  'Dia Yang Membangun Pakuwan' menjadi 'Dia Yang Memariti (Membuat Parit Pertahanan) di Pakuwan', namun  setelah lima dasa warsa 'tafsir baru' yang dipelopori Saleh Danasasmita ini pun  memiliki celah untuk dikritisi. Mengeja Ulang Sejarah edisi ini mengetengahkan sisi lain dan sudut pemaknaan yang sebelumnya  luput dalam penafsiran tersebut.

Mengeja Kalimat Mendulang Makna
   Setidaknya terdapat tiga poin atau  fokus ejaan ulang yang masing-masing saling terkait dan menjadi satuan analisis terhadap konteks yang membingkai di dalamnya. Ketiga poin tersebut adalah:
    Pertama, Secara morfologis dan etimologis 'Nyusuk' adalah kosakata yang tidak sepenuhnya Sunda tetapi juga digunakan dalam kosakata Bahasa Jawa. Di era prasasti antara Bahasa Sunda Kuno dan Bahasa Jawa Kuno memiliki banyak kesamaan perbendaharaan kata. Bahkan Prasasti Sri Jaya Bupati dari abad 11 yang ditemukan di Jawa Barat meskipun menceritakan Prahajian Sunda tetapi dituturkan dengan bahasa Jawa  Kuno. Karenanya arti dan pelafalan Nyusuk pun tidak lepas dari makna yang termaksud dalam bahasa Jawa. Dengan asumsi ini maka secara fonetik Nyusuk dapat atau semestinya dilafalkan  'Nyucuk'. Jadi " Ya nu nyu(s)uk na pakuwan" maksudnya adalah "Ya nu nyu(c)uk na pakuwan".  Nyucuk bahasa Sunda dan Jawa dari sisi semantik memiliki akar makna yang sama yakni Cucuk dan pucuk yang berarti Teratas, Puncak atau Ujung yang berkonotasi dengan Pemimpin Puncak (tertinggi)
    Pada periode tertentu sejarah Galuh dan Sunda, Pucuk Umun adalah sebutan untuk Raja atau Pemimpin Tertinggi. Prabu Seda dikenal sebagai Prabu Pucuk Umun di Banten sebelum era Maulana Hasanuddin.  Riwayat Pucuk Umun terdapat di hampir semua teks Sejarah Banten (SB) kecuali pada Teks Dd2. Pupuh XVI 27-31 menyebutkan bahwa Pucuk Umun yang memimpin sekira 800 ajar telah mengetahui kedatangan Maulana Hasanuddin yang akan menggantikan kedudukannya di Pakuan  sebagai raja yang berkuasa di Banten Girang; " Pucuk Umun noli uning, yen punikha kadhatengan, badhe anggantos kinen kawangwang sing pamelengan, tan kene rekeh benjang, ratu ing pakwan iku ingkang aran parabu seda". (Menyusuri Jejak Kesultanan Banten, Titik Pudjiastuti, Jakarta, 2015)              Menurut Husein Djajadiningrat dalam Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten ,800 ajar yang telah kehilangan pemimpin tertingginya kemudian menghadap Maulana Hasanuddin dan mengakuinya sebagai Pucuk Umun mereka. Pertistiwa ini menurut perhitungan Sejarawan Perancis Claude Gulliot terjadi tahun 1530-an (Claude Gulliot, Banten, Sejarah dan Peradaban adad X-XVII, Jakarta, 2008). Periode tersebut berdekatan dengan candrasangkala  Prasasti Batu Tulis menurut bacaan CM Pleyte 1533 M.  
    Selain itu, Pegeud seorang Javanolog Belanda dalam Literature of Java (1970, Vol.III) sebuah Katalogus Kesustraan Jawa yang tersimpan di Universitas Leiden menyebut Pakuan sebagai tempat tinggal Pucuk Umun (Partini Sardjono, Seri Sundalana Politik Agraria dan Pakuan Pajajaran,  Pusat Studi Sunda, Bandung 2015). Jadi 'Nyusuk' yang bisa jadi atau mestinya dilafalkan 'Nyucuk' maknanya lebih terasosiasi dengan 'Pemimpin Tertinggi' daripada 'Membuat Parit Pertahanan' atau 'Memariti Pakuan. 
    Perbedaan dalam membaca huruf dan pelafalan inskripsi lazim terjadi diantara peneliti tergantung sudut pandang dan perbendaharaan informasi yang dimiliki. Prasasti Geger Hanjuang Singaparna Tasikmalaya Jabar misalnya  kata di-susuk  menurut Pleyte tapi oleh FK Holle  dibaca Di-Yuyu (Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwang, Saleh Danasasmita,Bandung, Kiblat 2003). 
     Kedua, Jika kita teliti lebih jeli ternyata kalimat "..Ya Nu Nyusuk Na Pakuwan..." ( Baris ke-4) disimpan antara penyebutan Gelar dan Nama Nobat almarhum Sri Baduga Maharaja dengan Rangkaian Silsilah (Dia anak Rahyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahyang  Niskala Wastu Kancana yang mendiang Ke Nusa Larang).  Maka jelas kalimat "..Nu Nyusuk Na Pakuwan.. " sesungguhnya tidak sedang membahasakan 'Membuat Parit Pertahanan'. Karya-karya Sri Baduga Maharaja seperti  Gegunungan Tanda Peringatan, Mengeraskan Jalan Dengan Batu, Membuat Hutan dan Telaga Rena Mahawijaya justru diurutkan setelah penyebutan Nasab. Selain itu Prasasti juga tetap mangadopsi kata 'Nyiyan'  yang artinya 'Membuat'. untuk karya Sang Prabu; (1) Nyiyan sasakala, (2) nyiyan samida, (3) nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya. Hal itu menjadi indikasi  lanjutan bahwa Nyusuk  bukanlah kata kerja untuk arti 'membuat parit pertahanan' atau 'memariti'.
    Ketiga, Nyusuk Na Pakuwan mestilah peristiwa penting sehingga diabadikan dalam prasasti. Dan  sesuatu yang monumental lazimnya akan diperkuat oleh penjelasan  seperti naskah ataupun riwayat lisan yang mendukung. Sejarawan umumnya menyebut  Carita Parahyangan, Carita Waruga Guru, Naskah Lontar Ciburuy dan Pustaka Nagara Kreta Bumi sebagian dari sumber tertulis yang memperkuat penjelasan isi Prasasti Batu Tulis. Sayangnya naskah-naskah tersebut tidak banyak mengkonfirmasi pemaknaan " Dia yang membuat parit di Pakuwan'. tetapi sebaliknya  memperkuat makna dengan konteks penobatan Sri Baduga Maharaja

"Dia Yang Bertahta Di Pakuan" Makna Untuk "Ya Nu Nyusuk Na Pakuwan"
    Menurut hasil ejaan ulang, 'Dia Yang bertahta Di Pakuan' merupakan makna yang dinilai lebih cocok dengan  konteks kalimat 'Nu Nyusuk Na Pakuan' . Penempatannya dintara Gelar maupun Nasab, dan tidak dirangkaikan Karya Monumental Sri Baduga Maharaja mengindikasikan bahwa kalimat tersebut merujuk pada peristiwa penobatan bukan peringatan atas pembuatan parit pertahanan Pakuan. Artinya Dia lah (Sri Baduga Maharaja) yang mentahtai  atau dikukuhkan menjadi pemimpin tertinggi (bertahta) di Pakuan. Nyusuk  dengan kata dasar 'Susuk'  sekalipun lebih mudah dimetaforakan sebagai Pancang atau Pasak, sesuatu yang biasa ditancapkan atau dipancangkan. Begitu juga tahta merupakan sesuatu yang dipancangkan atau dikukuhkan. 
    Perhatikan salah satu paragraf  pada Naskah Carita Parahyangan  Folio 30 ini;
       "Sang Susuk Tunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja           Ratu Haji di Pakwan pajajaran nu mikadatuwan sri bima punta narayana madura suradipati,                inyana   pakwan Sang Hyang ratu dewata" (Sang Susuk tunggal ialah yang membuat tahta sriman         sri wacana untuk Sri Baduga Maharaja ratu haji (penguasa) di pakuan pajajaran yang                            bersemayam di keraton sri bima punta rayana madura suradipati, yaitu istana.
Naskah yang diduga sebagai karya era 1580-an tersebut menggelari Raja pembuat Palangka (tahta) ini dengan sebutan Sang 'Susuk' Tunggal. Dengan begitu istilah Susuk terhubung dengan makna 'Tahta'.  Karena bertahta di Pakuan itulah Sri Baduga Maharaja kemudian bersemayam (tinggal) di Kadatuan (Keraton) Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Hal yang sama terungkap dalam Negara Kretabumi I;2 yang memberitakan bahwa Sri Baduga Maharaja diserahi Kraton Sri Bima dan Tahta Sriman Sriwacana oleh mertuanya Sang Susuk Tunggal.
     Kropak K 406 Carita Parahyangan (CP) juga menceritakan tentang penobatan Prabu Darmasiksa yang memiliki pola narasi mirip dengan pengukuhan Sri Baduga Maharaja. " datang ka Pakuwan mangadeg  di kadatuan sri bima punta narayana madura suradipati.." (datang ke pakuwan ia menjadi ratu di kadatuan sri bima narayana madura suradipati). Setelah mangadeg baru disebutkan karya Prabu Darmasiksa seperti ngabeukah kadatuan (memperluas kraton). 
    Umumnya riwayat  pendukung seperti Naskah Lontar MSA, Kropak Carita Parahyangan, dan Nagara Kretabumi yang muncul  sesudah era Batu Tulis lebih banyak menjelaskan konteks  "Ya Nyusuk Na Pakuwan'" berkenaan dengan penobatan dan pengukuhan tahta Sri Baduga Maharaja dan bukan untuk pengertian membuat Susukan atau pun Parit Pertahanan. Nyusuk, Susuk, Disusuk, Cucuk, Nyucuk dan Diyuyu dalam konteks pengertian penobatan dan tahta dijumpai juga pada prasasti Cihanjuang Tasik malaya. Begitu pula 'Siya Nyusuk Na Pakuwan' pada Kropak 632 Naskah Ciburuy mengenai Aria Banga lebih cocok maknanya sebagai "Dia yang bertahta di Pakuwan". 
    Selain itu isi Prarasti  Batu Tulis dapat diperbandingkan dengan  Prasasti Astana Gede Ciamis. Prasasti dari era Prabu Wastu Kancana di Kawali ini menuliskan "...Nu Marigi Sakuliling Dayeuh.." yang oleh para ahli umumnya diartikan "...Yang Membuat Benteng Sekeliling Kota...". Inskripsi prasasti memilih kata 'marigi' dan 'dayeuh' untuk pengertian 'Membuat Benteng Pertahanan'. Dayeuh adalah kata dasar dan kata benda yang berkonotasi area geografi, sedangkan Pakuan merupakan kata bentukan yang ditujukan untuk pusat pemerintahan tempat raja bertahta. Itu sebabnya untuk kalimat 'Membuat Benteng Pertahanan' disini tidak digunakan kata Pakuan tetapi Dayeuh. Sebagai monumen karya-karya Prabu Wastu Kencana, pada prasasti ini pun tidak ada penyebutan gelar nobat dan rincian silsilah.
    Dengan demikian isi Prasasti Batu Tulis yang terdiri atas sembilan baris dapat diurutkan sebagai berikut;
1) Salam pembuka dan peringatan
2) Penegasan atas gelar dan nama nobat yang disandang oleh mendiang Sri Baduga Maharaja
3) Peneguhan atas mandat sebagai Maharaja di Pakuan Pajajar(an) 
4) Pengukuhan atas tahta di Pakuan
5) Rangkaian Nasab atau Silsilah dari ayah hingga kakek beserta lokasi makam keduanya
6) Deretan Karya Monumental Sri Baduga Maharaja
7) Penutup dengan Candrasangkala


(Selamat Mengeja).

Posting Komentar untuk "MAKNA ALTERNATIF "..YA NU NYUSUK NA PAKUAN.." PADA PRASASTI BATU TULIS BOGOR"